Bagaimana Pandemi Kali Ini, Mengubah Hidupmu, Part 2

adi saifullah putra
5 min readApr 5, 2020

--

Meskipun kelesuan ekonomi terjadi dimana-mana, hampir di semua bidang kehidupan, tetapi sektor digital kelihatannya menjadi sektor yang paling banyak berdampak positif. orang-orang dipaksa untuk mengadopsi teknologi lebih cepat dari seharusnya, menemukan alat-alat baru yang dapat memindahkan aktivitas mereka menjadi digital, tapa perlu keluar rumah, tanpa perlu kontak fisik dengan orang banyak.

Kita tahu, sejak lama, alat belajar online seperti google class sudah tersedia, alat meeting online seperti zoom dan hangout juga telah lama ada, aplikasi telemedic untuk konsultasi kesehatan jarak jauh sudah lama hadir, tetapi kita juga tahu bersama, bahwa adopsi masyarakat pada layanan tersebut sangat rendah. padahal semua alat-alat tadi, dapat meningkatkan kualitas hidup orang banyak, dengan lebih sedikit waktu terbuang, lebih hemat, lebih aman dan seterusnya. pandemi kali ini, ibarat pesawat terbang, kita harus membayar mahal, tetapi mempercepat kita semua untuk sampai pada tujuan.

Mallsampah pun demikian, kami mendapatkan pertumbuhan pengguna hingga 4 kali lipat dari biasanya, jumlah transaksi meningkat hingga 3 kali dari sebelumnya, di awal bulan april kami telah mencapai 12.000 pengguna, sebuah prestasi kecil untuk layanan di sektor lingkungan yang terbilang baru, pandemi, rupanya membuat orang-orang lebih perhatian pada kebersihan. ini membuat mereka dapat meluangkan cukup waktu untuk memilah dan mengelola sampah dirumah. di Kota Makassar, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari dapat mencapai 1.000+ ton/hari, 28% diantaranya bernilai ekonomi. tetapi nilai ekonomi itu dapat hilang begitu saja, berakhir dilaut, kanal atau TPA, merusak ekosistem dimanapun sampah itu berakhir. kami menyaksikan, pandemi ini merubah sesuatu. ini dapat menjadi tonggak sejarah tersendiri bagi industri pengelolaan sampah online di indonesia.

Tidak selalu berdampak baik, akan ada jutaan orang yang terdampak dari kelesuan ekonomi, perusahaan raksasa, UKM, pekerja informal, raja kunci, raja parfum dan sultan di instagram, hampir tidak ada yang bisa lolos dari dampak pandemi ini. bisnis yang mengandalkan kerumunan orang banyak, akan menjadi sektor yang paling terdampak, apalagi jika bisnis tersebut belum mengadopsi teknologi dalam perosesnya. misalnya sebuah cafe shop, yang kopinya juga tersedia di gopuud atau gleppuud, ketika hantaman pandemi terjadi, mungkin cafe itu masih punya chanels penjualan. bisnis yang memiliki adopsi teknologi lebih baik, memiliki resiko lebih sedikit untuk tumbang, dalam gelombang kelesuan eknomi global kali ini.

sebagai contoh kecil, di sekitar tempat tinggal saya, ada restoran waralaba populer, biasanya restoran ini sangat sesak dengan pengunjung, kamu bahkan harus reservasi terlebih dahulu, jika kamu butuh meja yang cukup besar untuk ngobrol bareng teman-temanmu. namun restoran ini belum menyediakan layanan pemesanan melalui aplikasi pesan antar makanan, seperti gopuud atau gleppuud.

sekitar 400 meter dari restoran populer itu, ada Rumah Makan lokal, yang pengunjungnya biasa-biasa saja, tentu tidak sebanyak restoran waralaba populer tadi, tetapi rumah makan ini telah menyediakan layanan pemesanan online, melalui aplikasi pesan antar makanan. saya adalah salah satu pelanggan setia rumah makan ini. ditengah physical distancing, saya bisa dua kali sehari pesan makanan di rumah makan ini.

ketika pandemi datang, perlahan pengunjung restoran waralaba populer tadi semakin hari semakin menyusut, begitu pula dengan rumah makan lokal tadi, tetapi rumah makan lokal ini tetap diramaikan dengan abang ojol yang memesan makanan. di minggu kedua, setelah anjuran physichal distancing oleh pemerintah, Restoran waralaba populer itu tutup, begitu juga dengan rumah makan lokal tadi, tetapi rumah makan ini masih melayani pembelian untuk take away. saya coba cek daftar restoran favorit di gopuud, hebatnya, rumah makan ini selalu menempati posisi teratas, hampir setiap hari.

apa yang bisa kita pelajari ? teknologi membuat perbedaan, tingkat adopsi teknologi dalam sebuah bisnis, menentukan bagaimana bisnis itu dapat bertahan selama musim kelesuan ekonomi. sekarang, coba bayangkan bagaimana dengan restoran take away, yang sejak awal memang dirancang untuk penjualan melalui gopuud atau gleppuud. dengan budaya #dirumahaja, mungkin penjualan mereka saat ini justru sedang meningkat pesat.

Photo by Bench Accounting on Unsplash

hal itu juga berlaku untuk sektor informal, bayangkan jika jutaan tukang ojek di indonesia belum online ? bagaimana jika ratusan ribu pedagang makanan belum online ? bagaimana dengan ratusan ribu UKM, jika belum mengenal e-commerce ? mereka mungkin saat ini menghadapi masalah yang serius.

pekerja informal seperti tukang bakso, cilok, raja kunci dan lainnya, dengan pandemi ini, menghadapi masalah yang luar biasa serius. mereka harus tetap bertahan hidup, tetapi juga tidak punya banyak pilihan. teknologi telah membuat perbedaan, menjadi jalan untuk bertahan, meskipun belum berdampak menyeluruh. hal ini juga berlaku untuk mitra-mitra pengepul kami di mallsampah, pengepul yang telah bergabung, lebih dapat bertahan dalam kondisi seperti ini.

jika kamu saat ini dalam keadaan baik, tidak begitu terdampak dengan kelesuan ekonomi, jangan lupa untuk bantu pekerja informal disekelilingmu ya.. kasih tip buat abang ojol, beli bakso depan komplek, panggil mas wantex, beli tisu di lampu merah jika kebetulaan keluar, dan seterusnya. bantuanmu mungkin sangat berarti untuk mereka.

perlu dicatat, perubahan kali ini, bukan hanya mejadi keharusan untuk bisnis, pemerintah atau stakeholdes terkait, tetapi juga keharusan untuk siapa saja, apapun dan bagaimanapun kamu. jika tidak, mungkin kamu akan sedikit tertinggal, dibidang apapun kamu berada. contohnya, jika kamu adalah mahasiswa, kamu harusnya punya kemampuan menggunakan beragam teknologi yang dapat membantumu belajar lebih efektif, belajar lebih banyak, atau teknologi untuk membantumu memiliki skill yang dibutuhkan, dan seterusnya.

momen ini mejadi waktu yang tepat untuk berubah, dibidang apapun kamu berada saat ini. karena pasca wabah ini, semua orang juga baru memulai kembali. bayangkan ketika ada waktu dimana semua orang disejajarkan, dan disuruh mulai kembali dari awal di garis “start” yang sama. inilah waktunya.

mungkin ini tidak berlaku untuk kamu yang ditinggal nikah, inilah momen terberat dari kejombloan seseorang dalam dekade ini. kamu bahkan tidak bisa keluar untuk menghilangkan duka dengan kopi panas. bahkan sahabatmu juga tidak bisa ada disampingmu saat ini. kamu sendiri dengan sunyi dan kehampaan. tetap sabar, corona pasti berlalu. :D

Photo by Trym Nilsen on Unsplash

Teruntuk sahabat saya HH, yang ditinggal nikah, sabaar dan tetap jaga kesehatan. untuk kita semua yang dirumah, jaga kesehatan, sebarkan pesan positif, tetap berbuat baik dalam keadaan apapun #ubahjadikebaikan

--

--